Definisi bahasa jurnalistik



Bahasa Jurnalistik

Bahasa Jurnalistik adalah  bahasa yang mudah di pahami oleh semua orang. Karna tutur katanya yang umum sehingga membuat orang langsung mengerti dengan arti dan maksud bahasa tersebut. Seperti siaran langsung, Presenter berita di televisi yang duduk dikursi itu saat membawa kan berita ia menggunakan bahasa formal untuk menyiarkan berita kepada jutaan penonton Indonesia, penggunaan bahasa formal yang ia sampaikan bisa dimengerti oleh kalangan masyarakat karena penggunaan kalimat di televisi tidak semuanya formal tetapi  ada yang tidak formal.  Bahasa jurnalistik dirancang untuk mempermudah orang berbicara secara singkat, padat dan jelas agar mempercepat waktu atau mempersingkat tulisan. Terkadang bahasa yang terlalu panjang dan tidak mengandung unsur kata yang jelas akan membuat orang bertanya-tanya, ini apa sebenarnya? Itu apa? Jika tulisan yang ditulis oleh seorang jurnalis tidak jelas maka akan mempengaruhi citra baik yang ada di dalam diri seorang jurnalis tersebut. Pembaca yang  membaca berita pasti akan kebingungan dalam memahami  karena alur yang disampaikan kemana-mana tidak sesuai topik kalimat yang ingin dibicarakan. Seharusnya  bahasa jurnalistik memiliki unsur kata baku yang di ambil dari kamus besar Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tetapi untuk orang yang tamatan SD belum tentu memahami betul makna kata jurnalistik, pasti sulit untuk dicerna untuk sebagian orang. 

  Bahasa jurnalistik yang mempunyai unsur kata baku biasanya digunakan untuk acara formal seperti Rapat, Sidang, Pidato dan masih banyak lagi. Kata yang tepat untuk menggambarkan seorang jurnalistik adalah pandai berbahasa, seorang jurnalis harus pandai merangkai kata-kata dan lihai berbahasa. Kemampuan seorang jurnalis bisa diukur dengan keterampilan berbicara, menulis, membaca dan menyimak. Unsur tersebut menggambarkan seorang jurnalis sebaiknya memiliki keahlian berbahasa agar setiap tulisan yang ia buat luas pola pikirnya. Maksud dari luas itu sendiri adalah tidak mencangkup hal itu-itu saja tetapi punya ciri khas atau karakteristik. Seorang jurnalis pasti mempunyai karakteristik tulisan yang merupakan jati diri seorang jurnalis. Ciri khas tersebut bisa dilihat dari tutur kata dan penggunaan kalimat. Berita yang disampaikan dalam bahasa jurnalistik harus memiliki makna menarik sehingga pada saat paragraf pertama pembaca yang melihat tulisan paragraf pertama tersebut langsung penasaran dan mau melanjutkan ke bait selanjutnya sedangkan untuk berita yang membosankan, pembaca yang membaca tulisan pada paragraf pertama langsung pindah ke halaman berikutnya karena tulisan tidak menarik dan unsur kata yang ada di berita tersebut tidak dimengerti oleh sebagian masyarakat. Bahasa jurnalistik tidak memandang kasta, pangkat sebagai contoh presiden makan, gubernur makan, lurah makan. Bahasa jurnalistik diciptakan untuk semua masyarakat dan tidak memandang siapapun.

Tulisan sangat berpengaruh terhadap berita karena tulisan yang bagus adalah tulisan yang di ketik dengan hati. Jika kamu mencintai pekerjaan sebagai seorang jurnalis pasti setiap makna kata nya mengandung kehidupan. Jadi berita yang disampaikan oleh seorang jurnalis kepada masyarakat bukan hanya sekedar berita tetapi berita yang hidup. Maksud dari berita hidup adalah setiap kata yang di curahkan melalui tulisan bisa dirasakan dan akan ada gambaran mengenai kejadian yang sudah dituliskan. Seperti contoh berita” Bayi di telantarkan ibunya sejak lahir” saat berita itu tersebar, pembaca yang membaca berita tersebut langsung menangis karena terharu dan merasakan kesedihan maka dari itu berita haruslah hidup agar semua pembaca bisa merasakan kejadian yang dialami atau lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Berita juga sangat mempengaruhi perilaku sosial di masyarakat seperti hal nya berita tentang produk makanan yang mengandung zat berbahaya, masyarakat yang langsung membaca berita tersebut  langsung menghindari produk dan menyebarluaskan berita tersebut ke berbagai macam media sosial. Pengaruh perilaku sosial bisa dilihat dari respon masyarakat terhadap berita .Pengaruh media sosial sangat luas saat ini, kebanyakan orang akan mendapat informasi dengan sangat mudah dalam sekali klik. Definisi bahasa jurnalistik menurut para ahli adalah F.Fraser Bond dalam An Introduction to Journalism (1961 : 1) menulis : jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati. Roland E. Wolseley dalam Understanding Magazines (1969:3) menyebutkan jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematik dan dapat di percaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran (Mappatoto, 1933:69-70). Menurut wartawan senior terkemuka Rosihan Anwar, Bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik.

Untuk sebagian masyarakat atau mahasiswa seharusnya bisa menanggapi isu tersebut dengan bijak dan kritis. Seorang jurnalis harus menyelidiki betul bahwa fakta adalah faktor utama untuk menentukan keberhasilan dalam tulisan. Berita yang baik adalah berita fakta.
sebelum menyebarluaskan isu yang menjatuhkan sebaiknya seoarang jurnalis harus melakukan observasi, penelitian yang mendetail agar terungkap fakta yang tidak menjatuhkan berbagai macam pihak yang terkait. Jurnalisme itu bukan sekedar pekerjaan, tetapi sebuah jalan hidup dimana orang dituntut untuk selalu mencari gagasan baru. David Talbot, pemimpin redaksi Salon.com, Ketika menanggapi buku The Elements of Journalism mengatakan bahwa jurnalisme merupakan panggilan masyarakat. Penggunaan diksi yang tepat dalam penulisan jurnalistik sangat berpengaruh terhadap makna kata. Untuk mencari suasana baru, tulisan baru, tulisan menarik sangatlah tidak mudah karena seorang jurnalis memiliki waktu sedikit untuk mendapatkan sudut pandang dari peristiwa yang diliput. Keterbatasan waktu sangat mempengaruhi kinerja wartawan, untuk itu wartawan harus bisa membagi waktu dengan baik. Seorang jurnalisme haruslah cepat tanggap mengenai isu yang beredar saat ini. Banyak sekali wartawan yang terkadang sulit merangkai kata-kata menjadi berita yang menarik.
Wartawan yang meliput kejadian haruslah menitik beratkan unsur fakta, observasi atau penelitian dan juga ajukan pertanyaan yang mendetail agar bisa di deteksi unsur kebenaran nya.

         Berita jurnalistik mempunyai dasar-dasar untuk melengkapi setiap tulisan nya, ada unsur 5W+1H yaitu :
- Siapa(Who) : Siapa yang menjadi sumber berita (Penanya)
- Apa(What) : Apa ide pokok berita tersebut
- Kapan (When) : Kapan Peristiwa itu terjadi
- Dimana (Where) : Dimana lokasi kejadian terjadi
- Mengapa (Why) : Mengapa peristiwa itu bisa terjadi
- Bagaimana (How) : Bagaimana  hal itu bisa terjadi
dari lima unsur tersebut dapat dipastikan bahwa alur yang ada di berita sangat jelas, untuk bisa memahami berita sebaiknya anda menggali informasi dan meningkatkan keingintahuan anda mengenai berita tersebut. Jika anda gemar membaca pasti semua informasi yang menurut anda kurang di yakini, anda akan cari tahu sendiri. Bahasa jurnalistik juga mempunyai kaidah etika yaitu :
- Sederhana : Memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca.
- Singkat : Langsung kepada pokok masalah (to the point).
- Padat : Sarat informasi.
- Lugas : Tegas tidak ambigu.
- Jelas : Mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur.
- Jernih : Berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang bersifat negative seperti prasangka atau fitnah.
- Menarik : Mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip: menarik, benar, dan baku.
- Demokratis : Tidak mengenal tingkat, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa.
- Populis : Setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.
- Logis : Kata, istilah, atau kalimat, harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense). Disini berlaku hukum logika.
- Gramatikal : Kata, istilah, atau kalimat apapun yang dipakai dan dipilih harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.
- Menghindari kata tutur : Kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal.

- Menghindari kata dan istilah asing : Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif, dan komunikatif, juga sangat membingungkan.
- Pilihan kata (diksi) yang tepat : Setiap kata yang dipilih, memang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
- Mengutamakan kalimat efektif : Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif.
- Menghindari kata atau istilah teknis : Harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, salah satu cara untuk itu ialah, dengan menghindari penggunaan istilah atau kata-kata teknis.
- Tunduk dalam kaidah etika : Dalam etika berbahasa, pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan, dan makian yang sangat jauh dari norma sosial budaya Agama.


Rangkaian kalimat yang disusun seorang penulis atau jurnalis, pada akhirnya melahirkan satuan-satuan paragraf jurnalistik yang padu, hidup, segar, efisien. Menurut Barnet (1974:61) paragraf merupakan seperangkat kalimat yang berkaitan erat satu sama lainnya. Kalimat-kalimat tersebut disusun menurut aturan tertentu sehingga makna yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan dan diperjelas (Tarigan,1981:10-11). Seorang jurnalis belum tentu seorang jurnalis. Seorang penulis bisa saja seorang karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, seorang seniman. Seorang jurnalis berkualitas, dituntut tidak saja menguasai teknik jurnalistik tetapi harus menguasai teknik peliputan. Wartawan harus terjun langsung dalam meliput berita karena dengan begitu wartawan langsung bisa menemukan fakta di lokasi kejadian.
Dengan begitu perjuangan sebagai seorang wartawan adalah menyajikan berita yang bermanfaat bagi semua orang dan tugas sebagai wartawan baik terselesaikan.
Menurut Gerald R. Miller, Seorang ahli komunikasi, melontarkan beberapa pertanyaan tajam. Apa tanggung jawab etis seorang komunikator terhadap khalayaknya? Bagaimana mendefinisikan batas-batas moral perbedaan pendapat? Apakah nilai dasar komunikasi demokratis? Apakah sensor dapat dibenarkan secara etis? Ahli retorika humanis kontemporer W. Ross Winterowd  mengingatkan, setiap transaksi komunikasi insani memang selalu memiliki akibat-akibat tertentu. disini bicara etika yang antara lain menyoroti masalah tujuan dan cara. Tanggung jawab etis, katanya, bagaimanapun bukanlah masalah niat baik semata.


Komentar